Sabtu, 30 September 2017

Dalam Kata Kulukis Wajahmu

Diantara belantara hutan yang lebat
Dan merkuri di atas jembatan
Ku sulam kata-kata, kutenun makna
Menjadi penggati selimut saat kau kedinginan
Tanpa kau sadari kata-kataku telah menyibak rambutmu, menjagamu agar kau terlelap
Dingin memeluk, rindu mengutuk

Tubuhku masih mengebara Adinda,
Malam terlihat begitu lancang
Hingga detik jam-pun serasa berbalik arah, serasa matahati tak mau terlalu pagi untuk menghianati mimpi
Kita berdua tersekat oleh waktu terjerat oleh rindu.
Tak saling bertemu

Malam ada mesin waktu
Semakin ingin keluar semakin terjerat
Semakin merasakan semakin terperangkap
Aku terjebak didalamnya
Tak ada apapun kecuali cahaya
Sinarnya minyilaukan mata
Lalu terlihat begitu roman
Tiba-tiba mereka bersatu
Cahaya itu menjelma wajahnmu
Aku merindukanmu

Kutata kata-kata, kutulis kala-kala
Kubungkus dengan doa
Serta kuhiasi dengan cinta
Agar kita jumpa, hungga membangun kota yang telah kita impikan berasama.

Selasa, 14 Maret 2017

Gunung dan cerita yang tak kunjung sampai


Sudah berlalu, semuanya telah hilang dalam angan-anganku. Gunung ini adalah saksi kesakitanku untuk kesekian kali. Hari itu badai di siang hari, ketika perjalananku menuju puncak, biru berubah menjadi kelabu. Awan putih menghilang dari cakar langit. Berubah wujud menjadi butir-butir air yang menetes dari ujung bumi. Angin mulai mencegahku untuk melanjutkan perjalanan. Hembusanya begitu kencang, menggoyangkan apa yang ada di sekitarnya dan membuat gaduh pohon-pohon yang dilewatinya. Suara sungguh bergemuruh. tariakan-teriakan mereka bersatu menandakan  ketakutan, dan pohon-pohon itu menangis, menggugurkan daunya. Pukul 16:30, air tak lagi basah tergantikan sinar matahari yang mulai memantulkan cahayanya melalui langit-langit yang tak kuat menopang keindahan sinar tersebut. Kita telah tiba di sebuah padang rumput luas, berbukit-bukit. Hanya ada hijau,kuning dan biru. Tak terlihat lagi kelabu yang menyeramkan itu. Perjalanan yang panjang membutuhkan proses yang berat itu tergantikan oleh hasil akir yang luar biasa hebatnya. Aku rebahkan badanku bersama rumput-rumput berserta jejak air yang masih terpeluk hangat dengannya. Mempersiapkan lagi apa yang akan aku perbuat ketika telah turun dan kembali ke rumah. Akan aku ceritakan perjalanan ini kepadamu. Aku menunggu senja dari kejauhan. Kuharap senja akan segara datang.tapi apa daya, senja tak kunjung tiba. kabut memeluk senja tercintanya, Tak ada lagi cahaya keemas-emasan yang menampakan diri. Senja yang aku tunggu tidak ada di kamu.  Tenda mulai terpasang. Dingin menyerang dari segala arah. Lalu tak lama kemudian angin berserta hujan berpadu dalam balutan kilat. Badai besar terjadi di gunung ini. Beberapa jam sudah aku lewati, ratusan petir menyambar , trilliunan air jatuh bergelimpangan.  Kecemasanku berubah menjadi ketakutan. Aku tak takut dengan hujan. Hanya saja aku cemburu denganya. Karena ia pernah menyentuhmu tanpa sepengetauhanku, menyentuh rambutmu, dan kamu tidak marah dengan itu. Aku ingin hujan segera reda.
Pagi itu, kuurungkan niatku untuk menikmati puncak itu. Bukan karena tak mau, hanya waktu tak sanggup aku tunggu. Pulang adalah jalan yang tepat untuk sebuah kerinduan. Betapa bahagianya ketika aku sudah mengambarimu dan menceritakan apa yang kualami ketika perjalanan kemarin, aku harap akan menjadi cerita menarik yang akan ku bungkus rapi dengan rumput-rumput hijau, batu-batuan yang tertata rapi, hujan, petir, tenda yang hampir rubuh, dan temanku yang mengalami hypotermia. Akan tetapi, cerita itu tak sampai kepadamu. Terhalang oleh kabar yang begitu mendadak dan tak sengaja terdengar oleh teling mungil ini. Kabar ini kelam, melebihi badai yang angat seram.aku mendengar kamu telah mebuka pintu kamarmu yang kau tutup rapat hari hari lalu. Harusny aku orang pertam yang melihat betap indahnya kamarmu yang kamu bangun dengan cerita - cerita masa lalumu yang telah berdebu.Kita mempunyai cerita yang berbeda. Kamu dengan cerita yang indah bersamanya dan aku dengan cerita indah bersama gunung itu. Tapi itu hanya sesaat cerita indahku berubah menjadi cerita horor yang kau buat bersamanya. Cerita indahmu adalah ancaman bagiku. Sudah kubayangkan betapa bahagiannya dirimu pada hari itu.  Taj ada yang bisa kuperbuat lagi hanya menyesali apa yang telah terjadi.  Melapaskan adalah sesuatu yang akan aku lakukan. Melepaskan saling menguntungkan kita. Untukmu,  mendapat seseorang yang baik, dan untuku akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Aku akan mencoba melepaskanmu tapi kamu merangkulku dengan kata-katamu yang mencoba memberhentikanku dari keinginan untuk meninggalkanmu. Karena kau telah mempunyai buku baru yang akan kau isi dengan puisi-puisi indahmu tentang dia.  Sementara aku masih dengan puisi-puisi tentang luka meskipun buku ini telah kehabisan halaman. Sengaja aku paksa mencari-cari lembaran kosong. 
"Maaf mas" katanya melaui pesan singkat.
Aku tau maksut perkataan ini. Dia merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Aku ambil handphoneku dan mulai kubalas pesan itu " tak usah minta maaf, tak ada yang salah. Hanya saja aku yang salah karena terlalu mengkhayal tentangmu" jawabku.
"Aku hanya bisa mengucapkan maaf mas, tak ada lagi kata yg bisa terucap selain itu". Lalu tak kuasa hati ini mulai memberi pertanyaan-pertanyaan yang cukuo membuat gila. Dan perasaan mulai mengambil alih. Lalu aku memberanikan diri bertanya. Meskipun hanya lewat pesan.akan tetapi, sudah mewakili rasa penasaranku yang begitu membebani.
"Kapan kamu telah memiliki pacar baru?" Tanya perasaanku
"Ketika kamu naik gunung mas".
Hp aku matikan. Akirnya sepi itu kembali megetuk pintuku. Dan bodohnya aku biarkan dia masuk menemaniku. Mencintaimu bak air terjun dan pada akirnya berhenti di muara penampung luka. Cerita ini akan aku simpan hingga kamu sudah ingin mendengarkan dengan kesendirianmu.

Merbabu, 9 february 2017

Selasa, 24 Januari 2017

Semalam di singapore


Malam membawa kabar dengan angin melalui sela-sela jendela yang menjadi ingatan penghantar tidur
Ingatan yang menyayat merobek luka
Malam ini kuputusankan untuk mencari udara di merlion park
Terlihat Bintang-bintang berubah menjadi lampu-lampu warna-warni menghias langit yang menghitam
tak ada bintang satupun, bulan enggan menampakan sinarnya
tak ada teman disampingnya
Apakah engkau melihat bintang dari sana?  Mungkin, tak sempat kamu melihat bintang karena kau terlalu sibuk dengan bintangmu sendiri. 

Senin, 16 Januari 2017

Serambi malam

Malam ada mesin waktu
Semakin ingin keluar semakin terjerat
Semakin merasakan semakin terperangkap
Aku terjebak didalamnya
Tak ada apapun kecuali cahaya
Sinarnya minyilaukan mata
Lalu terlihat begitu roman
Tiba-tiba mereka bersatu
Cahaya itu menjelma wajahmu

Kamis, 12 Januari 2017

Kamar tanpa pintu

Kamarmu adalah penjara yang kau buat
Bukan dari sebuah hukuman
Dari keinginan tanpa angan sebuah bayangan
Sesak mulai menylimuti pengap mulai mengguri
Hati mulai menglupas Oksigen berubah menjadi udara panas
Tak ada pintu, tak ada jendela, tak ada celah
Tak ada yang bisa menembusanya
Kenapa kau rela menyakiti dirimu seperti itu
Tak bisa kubayangkan bagaimana kau menyakiti orang lain
Kenapa tak kau bangun pintu?
Pintu adalah iklas yang minimalis
Agar seseorang masuk mengisi kamarmu
Dengan mengetuk pintu hatimu
Ijinkanlah aku menyelamatkanmu

Maafkan, Aku Perokok

Rokok sudah terkokang beberapa kali
Altar sudah dipenuhi putung-putung berserakan
Abunya berceceran tersulut oleh api
hilang ketika hembusan angin bertiup dari arah berlawanan
serta dinginnya udara akan terasa menyulitkan
Lalu, Berterbangan Menuju rumahmu
Setiap partikel abunya menjelaskan tentang rindu

Tak ada asap jika tak ada api
Tak ada cinta jika tak ada kamu

Rabu, 11 Januari 2017

D.I.D

Entah apa yang harus aku lakukan. Ketika aku menjadi istri seseorang yang sama sekali tidak mengenalku. Hari itu, setelah kecelakaan yang dia alami. Suamiku menjadi orang yang berbeda. Terkadang ia sangat romantis, terkadang ia mengacuhkanku dan tak mengenal diriku sama sekali. Suamiku mempunyai kenangan masa kecil yang sangat buruk, dia dibesakan dalam lingkungan yang kacau. Ayah dan ibunya mengalami perceraian pada saat dia berumur 4 tahun. Selama masa kecilnya dia juga menjadi korban bullying lingkunganya karena dia merupakan laki-laki yang lemah. Semenjak itulah ia mempunyai kepribadian ganda. Hal itu membuat kota yang telah kita bangun bersama menjadi hancur dan runtuh sedikit demi sedikit. Nama suamiku adalah kamajaya. Nama seorang dewa cinta dalam pewayangan. Ia merupakan makhluk yang berwajah paling tampan di Tribuana (jagad Mayapada, Madyapada dan Arcapada). Mungkin suamiku adalah titisan dari kamajaya. Dia juga berparas tampan sepertinya, dia juga mempunyai rasa kasih sayang yang lebih kepadaku.
Malam sudah larut, aku menunngu suamiku pulang hanya sekedar untuk membukakan pintu  untuknya akan tetapi dia tak kunjung tiba. Kantuk ini menyerang mataku seakan-akan mata ini tertutup dengan sendirinya, tapi aku harus setia menunggu suamiku pulang. Dari ujung jalan terdengar suara tapak kaki mendekat tepat di bibir pintu. Aku terengah engah menuju pintu tersebut dan membukakanya, ternyata bukan suamiku yang datang. Akan tetapi seseorang yang lain dari dirinyalah yang datang. Betapa terkejutnya aku ketika melihat penampilan dia, dengan baju compang-camping dan beraroma alkohol menylimuti dirinya.
"Lekas mandi, dan tidur" dengan lembut aku berkata
'Sudah jangan campuri urusan orang lain, aku tak kenal kau'' sahutnya
'Aku capek mau istirahat'
Perkataanya membuatku masuk kedalam gravitasi bintang yang telah kehabisan bahan bakar, dan di dalamnya terdapat lorong ruang dan waktu yang bersekutu dan menyuruhku mengikuti arusnya, dan aku tak tau harus melakukan apa. Aku rehatkan tubuhku sejenak hanya untuk memejamkan mata dan pikiran. nIhil aku tak bisa melakukanya. Mataku memang tertutup tapi otak dan hatiku berjalan tanpa perintaah.
pagi telah tiba, aku masih tertidur di sofa tempat biasa memadu cinta. Aku merasakan kecupan manis dari seorang yg aku kenal, kecupan itu membuatku bisa tersenyum satir,
"kenapa tidur diluar ma?" tanyanya dengan penuh kehangatan
inilah seseorang yang aku tunggu seeorang yang aku idam-idamkan kepulanganya
"badan mama semakin kurus, jangan memikirkanku, sarapn dulu ma, sudah aku siapkan makanan untukmu. Setelah itu kita liburan menengok anak kita, aku juga mau ke dokter psiteater. Aku ingin sembuh. Aku tidak mau kamu selalu tersarikiti oleh diriku yang lain'
"maafkan aku, ketika tubuhmu goyah aku tak bisa menopangmu, ketika kau rebahkan tububmu tanganku tak sampai untuk menggapaimu. " katanya dengan penuh penyesalan.
"ijinkanlahh aku bersandar kepadamu, ketika kau bisa melakukanya" tangisanku pecah, seperti gelas kaca yang tak tahan menopang panasnya air yang baru mendidih,  kecupan dan pelukan yang hangat datang membunuh sepiku.
Hari ini adalah hari terindah ketikaa kamajaya yg berada dalam tubuhnya. Aku tak ingin dirinya yg lain muncul disaat situasi seperti ini dirinya yang lain bisa aku sebut sebaga batara kala.  Di rumah nenek sudah berdiri menyapa kita berdua, ialah anaku  potongan bob dan mata sipitnya adalah obat paling mujaran yang diciptakan Tuhan untukku. Aku sering berkunjung ke rumah nenek hanya untuk menyapa anaku, sedangkan kamajaya jarang kemari, dikarenakan penyakit yg didetitanya.
"Ayah, adik kangen"  suara lembutnya meluluhkan hati kamajaya.  Tak mau terbawa suasana, aku segera sigap mengalihkan topik.
"Mama bawa mainan. Ini oleh oleh untuk adek, katanya adik mrnjadi juara kelas" kataku.
Aku merasa bahwa aku adalah orang tua yang gagal mengurus anaknya karena menitipkanya kepada ibu dari suamiku dan dia dibesarkan bukan oleh orang tuanya.
"Baru datang?" tanya nenek
"Iya bu, maaf tidak mengabari ibu sebelumnya" jawab kamajaya.
"Ayo masuklah, akan kubuatkan teh"
"Sudah buu. Tak usah repot repot, kita mau mengajak ian jalan jalan dulu. Sekalian liburan"
Kami berdua berpamitan dan segara pergi jalan-jalan.  Ibu sudah mengetauhi apa yang diderita eh kamajaya, ketika pertama kali ibu mengetauhi dia yang menjadi penyelamatku dengan kata-katanya untuk belajar sabar untuk menjalani apa yang terjadi. Dia menggap bahwa Tuhan tak akan memberi cobaan diatas batas manusia. Pagi ini aku merasa kota baru telah dubangun dalam tububku dan merekalah yang membangunya. Hari menjelang sore. Ian kita kembalikan ke rumah nenek. Lalu meluncurlah kami ke rumah dokter yang menjadi tempat konsultasi kamajaya. Dokter itu bernama dokter Vardy. Doker vardy menyambut kita dengan sopan. Dia menyilahkanku dan kamajaya duduk, mulailah konsultasi tentang kemajuan pemyakit yang dideritanya. Dokter itu tidak bisa memberikaan saran apapun kecuali obat penenang atau bisa disebut juga penjara bagi batara kala. "Saya sudah menyerah dengan keadaan ini" dokter itupun hanya bisa pasrah.
Terkadang aku merasa sangat bersalah karena telah menyerahkan berkas ini ke dokter vardy.  Dokter hebatpun tak bisa menangani penyakit psikologi yang dimiliki suamiku ini.
Setelah setengah jam kita berkonsultasi, aku beranjak dari rumah dokter vardy. Kami berdua kembali ke mobil. Tak lama kemudian terdengar bunyi telpon memecah keheningan,diangkatlah telepon itu, terdengar suara perempuan dengan nada sumbang memaki-maki suamiku. Lalu ditutuplah telpon itu. Tak lama kemudian air mata tercucur dari mata indah suamiku. Aku tak tau apa yang telah terjadi, sehabis dia menutup telponnya dia merasa berbeda. Kami berdua sampai dirumah suasana mulai berganti. Hal ini membuat gusar diriku. Kami berdua diam tak bersuara di depan televisi yang menayangkan berita tentang demo yang dilakukan mahasiswa negri yang menyuarakan ketidakpuasanya terhadap pemerintahan. Aku tak berani menanyakan apa yang terjadi. Lalu tiba-tiba terdengarah suara penuh penyesalan keluar dari bibirnya "maaf ma, aku telah membunuh seorang bayi"
"Bagaimana maksutmu pa? Jawabku dengan pandangan kosong tertuju dalam televisi tersebut
"Aku menghamili seorang wanita, lalu wanita itu menggugurkan bayinya"  suaranya dengan terbata-bata
" Aku bersalah ma, aku bersalaah. Aku tak tahan dengan kondisi semacam ini.  Maafkan aku ma" 
Suara televisi sudah tal terdengar lagi karena tangisan kita berdua mengalahkan suara apapun.
Lalu aku mencoba menenangkanya "itu bukan dirimu, itu bukan dirimu, itu bukan dirimu. Dirimu yang lainlah yang melakukan semua ini" sautku
"Itu aku. Aku yang telah membunuhnyaa. Memang bukan pribadiku yang melakukanya, batara kala juga aku. Dia diriku yang lain. Ada dua pribadi yang berada dalam jasadku. Aku bersalah " suaranya mulai hilang termakan kepediham. tak ada yang bisa kuucapkan. Karena kata-kata tak bisa mengungkapkan apa yang aku rasa.kurebahlakan tubuhku beserta tangisanku kedalam pangkuanya. Tapi suamiku menghindari rabahaku ini. Akhirnya ketakutanku yang  membayangiku mucul. Selama ini aku tak tau apa yang dilakukan dirinya yang lain di luar sana, dengan sifatnya yang semacam itu, aku bisa membayangkan apa yang dia lakukan. Tiba-tiba hujan turun, derasnya mewakili tangisanku yang menetes tak terhenti. Tanpa pamitan kamajaya meninggalkanku. Aku tak tau apa yang akan dia lakukan, pintu terbanting, terdengar mobil keluar dari garasi yang blm tertutup. Aku masih tak bisa berpikir lagi. Setelah beberapa jam kemudian tak ada kabar dari suamiku. Mungkin dirinya yang lain sedang berada dalam tubuhnya. Tiba-tiba telepon berbunyi pada pukul 2. Kuharap itu telepon dari suamiku, entah kenapa aku mempunyai firasat buruk. Aku angkat telepon dengan gemetaran jarikuu seakan menolak mengakat telepon ini.
"Hallo, ini benar rumah bapak kamajaya?" Terdengar dari suara telepon tersebut
"Iya '' jawabku
"Ini dari rumah sakit, memberitahukan bahwa saudara bernama kamajaya telah berada dalam kamar jenazah, dikarenakan kecelakaan tunggal. Dimohon dengan sangat keluarga korban segera kemari dan melunasi biaya administrasi rumah sakit" suara itu seakan mengancamku. Senyap. Suamiku meninggalkanku. Apakah ini batas  cobaan untukku? Apakah masih ada lagi cobaan yang akan aku terima? Apakah nasibku sama dengan puntadewa yang masih mendapat cobaan ketika saudara-saudaranya pandawa telah meninggal ? Aku pasrah dengan keadaan.